DPRD KOTIM 

Anggota Dewan Minta Kejari Ungkap Tuntas Dugaan Korupsi Proyek Bandara Sampit

Ilustrasi (net)

Sampit, – Anggota Komisi IV DPRD Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah Hary Rahmad Panca Setya berharap pihak Kejaksaan Negeri Sampit mengungkap hingga tuntas dugaan korupsi proyek drainase Bandara Haji Asan Sampit.

“Kita ingin semua pelaku yang terlibat dan turut menikmati uang proyek drainase Bandara Haji Asan Sampit yang diduga telah merugikan negara sekitar Rp1,3 miliar itu ditahan semua,” katanya kepada  di Sampit, Sabtu.

Hary mengungkapkan, dengan ditangkapnya semua pelaku dugaan korupsi proyek diharapkan dapat memberikan efek jera serta tidak mengulangi lagi perbuatannya.

Selain itu tindakan tegas pihak Kejaksaan dalam mengungkap kasus korupsi proyek diharapkan bisa menjadi peringatan terhadap kontraktor lain untuk tidak berbuat serupa.

“Kita ingin dengan ditahannya tiga tersangka oleh Kejaksaan Sampit, yakni Sumarno selaku Kontraktor Pelaksana, Purwadi selaku konsultan pengawas pekerjaan dan Wahyuno selaku pejabat pembuat komitmen, bisa menjadi peringatan untuk kontraktor lain tidak melakukan korupsi dalam melaksanakan pekerjaan proyek pemerintah,” katanya.

Tindakan yang dilakukan tersangka tidak hanya membuat negara rugi, namun masyarakat juga sangat dirugikan karena proyek tersebut dibangun menggunakan dana yang dihimpun dari masyarakat, yakni melalui pajak dan lainnya.

“Akibat korupsi sudah jelas kualitas proyek tidak sesuai dengan harapan dan tidak menutup kemungkinan berdampak pada rusaknya fasilitas bandara lainnya, terutama yang berkaitan dengan drainase itu,” ucapnya.

Sementara itu, sebelumnya Kepala Kejari Kotawaringin Timur Wahyudi didampingi Kepala Seksi Intelijen Deddy Rasyid dan Kepala Seksi Pidana Khusus Hendriansyah mengatakan, ketiga tersangka dugaan korupsi proyek drainase Bandara Haji Asan Sampit tersebut dilakukan pada Jumat (28/4) siang usai menjalani pemeriksaan sebagai tersangka didampingi kuasa hukum mereka.

“Pekerjaan dilakukan dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan metode pelaksanaan yang seharusnya, sehingga hasil pekerjaan menjadi tidak sesuai dengan spek teknis yang disyaratkan dalam kontrak,” jelasnya.

Dugaan korupsi itu terjadi pada pembuatan drainase sisi utara sepanjang 2.170 meter persegi di Bandara Haji Asan Sampit tahun 2016. Sumarno selaku kontraktor pelaksana, meminjam perusahaan PT Harapan Indah Jaya kepada Julius Leman.

Sumarno diduga memerintahkan koleganya bernama Heri untuk bertindak seakan-akan kuasa direktur dari perusahaan tersebut, padahal seluruh pekerjaan ditangani Sumarno sendiri.

Dalam pelaksanaannya, diduga terjadi penyimpangan, yakni item pekerjaan lantai drainase yang seharusnya berupa pasangan batu dengan perbandingan komposisi 1:3, namun hasil pemeriksaan menunjukkan ketidaksesuaian. Akibat tindakan itu, negara berpotensi mengalami kerugian sekitar Rp1,3 miliar dari anggaran kegiatan yang dialokasikan Rp4,4 miliar.

Purwadi dan Wahyuno juga dianggap bertanggung jawab karena selaku konsultan pengawas dan pejabat pembuat komitmen yang telah menyetujui progres pekerjaan dan melakukan pembayaran kepada pihak kontraktor, padahal diketahuinya bahwa pekerjaan tersebut tidak sesuai dengan metode pelaksanaan dan spesifikasi teknis yang ada.

Ketiganya ditetapkan sebagai tersangka pada 21 April 2017 dan pertama kali dipanggil sebagai tersangka Jumat (28/4) siang. Dengan alasan kepentingan kelancaran penyidikan, Kejaksaan memutuskan menahan ketiganya dan menitipkannya ke Lembaga Pemasyarakatan Klas IIB Sampit.

Para tersangka dijerat dengan Pasal 2 dan 3 Undang-Undang Nomor 20 tahun 2001 junto Undang-Undang Nomor 20 tahun 2001 dengan ancaman 20 tahun penjara.

BERITA TERKAIT

Leave a Comment

%d blogger menyukai ini: