DPRD KOTIM 

Anggota DPRD Ini Minta Pemda Ambil Alih Kebun Tak Berizin  

Sampit,– Ketua Komisi II DPRD Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah Rudianur mendorong pemerintah daerah itu untuk mengambil alih perkebunan sawit yang tidak berizin atau ilegal.

“Pemerintah daerah harus tegas dan berani mengambil sikap atas lahan ilegal yang berada dalam kawasan perusahaan sawit, sebab jika tidak tentunya daerah yang akan dirugikan,” katanya  di Sampit, Senin (3/4).

Rudianur mengungkapkan, dengan adanya ketegasan dari pemerintah daerah diharapkan bisa memberikan efek jera terhadap perusahaan sawit yang melakukan pelanggaran.

Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Kotawaringin Timur, Rudianur

“Saya sepakat jika kebun ilegal tersebut diambil alih pemerintah daerah kemudian dimanfaatkan untuk mendukung kemajuan daerah dan kesejahteraan masyarakat yang ada disekitar perusahaan sawit,” katanya.

Lebih lanjut Rudianur mengatakan, perkebunan sawit tak berizin tersebut hendaknya dikelola langsung oleh pemerintah daerah agar lebih mudah pengawasannya.

“Pengelolaan perkebunan sawit hasil sitaan tersebut bisa melalui Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), dan jika belum ada maka pemerintah wajib membentuk BUMD tersebut,” ucapnya.

Rudianur menilai, keberadaan BUMD sangat perlu mengingat banyak peluang usaha dapat ditangani oleh pemerintah daerah langsung, selain masalah perkebunan, BUMD juga bisa menangani masalah hasil pertanian lainnya.

Sementara itu, Bupati Kabupaten Kotawaringin Timur, Supian Hadi mengatakan, pihaknya akan mengambil alih kebun kelapa sawit yang tidak berizin maupun yang ditanam melebihi izin yang diberikan.

“Saya sudah meminta Asisten II untuk terus mengevaluasi perkebunan yang ada. Kita jangan tebang pilih. Kalau ada perkebunan yang menanam di luar HGU (hak guna usaha) maka kita akan ambil lebihnya,” katanya.

Kotawaringin Timur merupakan daerah yang memiliki perusahaan perkebunan kelapa sawit terbanyak di Kalimantan Tengah. Banyak laporan masyarakat kepada pemerintah daerah terkait perusahaan perkebunan yang melanggar aturan.

Perusahaan perkebunan diingatkan mematuhi aturan yang ditetapkan pemerintah. Selain sebagai kewajiban, hal itu juga untuk menghindari munculnya permasalahan baru seperti sengketa lahan dengan masyarakat maupun perusahaan lain.

Supian menyebutkan, saat ini baru beberapa perusahaan yang terdeteksi melanggar aturan. Audit akan dilakukan secara bertahap terhadap seluruh perusahaan perkebunan kelapa sawit.

“Kita sudah ada BUMD (badan usaha milik daerah). Jadi kalau ada kebun yang diambil alih maka akan kita dikelola dan hasilnya digunakan untuk masyarakat dan pembangunan, seperti membangun sarana pendidikan, kesehatan dan lainnya,” terang Supian.

Akhir 2016 lalu, tim audit perusahaan yang dibentuk Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur, menemukan kebun ilegal seluas 537 hektare di wilayah Kecamatan Mentaya Hulu dan Telawang. Kebun itu belakangan diketahui milik perusahaan bernama CV Agro Yakub yang dipastikan tidak memiliki izin dari pemerintah daerah.

Pemerintah kabupaten sudah menyurati perusahaan itu namun tidak ada tanggapan. Padahal perusahaan itu diduga sudah menikmati panen kebun kelapa sawit tersebut.

Kebun ilegal itu berada di areal izin lokasi PT Tapian Nadenggan namun status lokasinya masuk kawasan hutan produksi (HP) dan hutan produksi terbatas (HPT). Namun PT Tapian Nadenggan menegaskan kebun itu bukan milik mereka.

Saat ini pemerintah kabupaten menunggu petunjuk dari pemerintah pusat melalui pemerintah provinsi terkait lahan ilegal tersebut. Kewenangan pengelolaan sektor perkebunan ada pada pemerintah provinsi.

BERITA TERKAIT

Leave a Comment

%d blogger menyukai ini: