DPRD KOTIM 

Dampak Karhutla Bisa Sebabkan Kanker Paru-Paru

Sampit,- Anggota DPRD Kabupaten Kotawaringin Timur, Alexius Eslitter mengingatkan dampak dari asap hasil kebakaran hutan dan lahan (karhutla) adalah penyakit infeksi saluran pernafasan (ISPA), bahkan dalam jangka panjang bisa menyebabkan kanker paru-paru.

Ia mengaku sejak dulu dirinya sudah mengingatkan kepada Dinas Kesehatan Kotim terkait perlunya melakukan upaya secara komprehensif dan jangka panjang untuk mengatasi dampak karhutla ini. Karhutla menjadi masalah klasik yang hingga kini belum bisa diselesaikan.

“Tahun 2015 lalu misalnya juga terjadi karhutla, apakah sekarang sudah selesai dampaknya saya yakin belum. Perokok pasif saja risikonya besar apalagi asap karhutla yang pedih di mata dan sesak jika terhirup, ini sangat berbahaya bagi kesehatan bayi hingga orang dewasa dalam jangka panjang,” ungkap Alexius, Selasa (30/7/2019).

Politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) ini menyebutkan jika tidak ada tindakan serius, maka 10-15 tahun ke depan risiko penyakit kanker paru-paru bisa menimpa masyarakat kotim akibat karhutla ini. Dirinya juga mempertanyakan langkah penelitian dan pemeriksaan lebih lanjut dari Dinas Kesehatan dan instansi terkait mengenai risiko jangka panjang ini.

Pemerintah sampai saat ini menurutnya belum mengambil langkah penelitian dan pemeriksaan secara serius dan intensif. Hanya orang-orang tertentu yang memiliki kesadaran dan kemampuan finansial saja yang memeriksakan dirinya.

“Bagaimana dengan orang yang tidak mengerti dan tidak memiliki biaya, di sinilah peran pemerintah diharapkan dapat memberikan solusi pelayanan kesehatan bagi masyarakat,” jelas Alex.

Terkait penyebab karhutla, ia menengarai pembukaan lahan dengan cara ditebang (metode biasa) membutuhkan biaya mahal, sehingga ada oknum yang mengambil jalan pintas dengan membersihkan lahan dengan cara dibakar. Hal semacam ini harus segera dihentikan, ia mendorong semua pihak mengambil tindakan tegas terhadap pembakaran lahan ini.

Sekjen DPC PDIP Kotim ini juga menilai, munculnya karhutla juga tak lepas dari banyaknya lahan tidur di kotim. Karhutla sebenarnya bisa diminimalisir jika pemerintah daerah mendorong masyarakat untuk memanfaatkan lahan yang ada. Sebab jika lahan tersebut produktif kecil kemungkinan terjadi kebakaran.

Artinya di kotim ini masih banyak lahan tidak produktif, sehingga potensi kebakaran lahan masih sangat tinggi. Ini sebuah tantangan bagaimana Pemda mendorong agar lahan-lahan yang tidak produktif bisa menjadi produktif,”Tutupnya.

BERITA TERKAIT

Leave a Comment