DPRD KOTIM 

Petani Tradisional Dihimbau Tak Bakar Lahan Pertanian

Sampit,- Petani dan pekebun tradisonal di Kecamatan Pulau Hanaut Kabupaten Kotawaringin (Kotim) masih ada yang melakukan bercocok tanam dan membuka lahan dengan cara di tebas, di tebang (pohon), kemudian membakar. Petani setempat juga ada yang beranggapan bahwa dengan cara membakar lahan, maka akan menyuburkan tanah yang akan ditanami.

Menanggapi hal ini, Wakil Ketua DPRD Kotim Supriadi MT, mengimbau agar petani setempat mengubah cara bertani dan berkebunnya, dengan cara mengolah lahan mereka tanpa membakar.

”Saya mengimbau kepada kelompok tani, petani dan pekebun agar di dalam membuka lahan pertanian, sawah mau pun berkebun bercocok tanam jangan sekali-kali dengan cara membakar. Mari kita mengolah lahan itu dengan cara diolah, mungkin itu cara yang lebih baik,” katanya Selasa, (30/1/2018) di Sampit.

Bagaimana cara mengolah lahannya tambah Supriadi, bisa belajar dengan para petani dan pekebun yang ada di daerah lain yang pertanian dan perkebunannya yang sudah jauh lebih maju.

”Masalah kebiasaan dan budaya masyarakat di sini membersihkan dan menyuburkan lahan dengan cara membakar yang dilakukan secara turun temurun, kita ubah dengan cara belajar kepada saudara kita yang tidak melakukan pembakaran lahan, tetapi mereka berhasil,” paparnya.

Dilanjutkannya, selain itu petani lokal bisa memanfaatkan para petugas penyuluh pertanian yang ditugaskan pemerintah untuk membina para petani di Kotim. Dan para PPL ini juga di harapkan pro aktif mendampingi para petani, agar mereka tahu cara mengolah lahan dengan cara tanpa membakar.

”Para petani dan pekebun ini membutuhkan tenaga penyuluh, jangan mereka (petani) dibiarkan sendiri. Polisi melarang membakar, dan para penyuluh atau dari dinas instansi terkait harus memberikan solusi agar mereka tidak membakar lahan,” pungkas Supriadi.

Ditegaskannya, masalah penanggulangan Karhutla bukan hanya tugas Polisi dan TNI, tetapi juga merupakan tanggungjawab lintas sektoral, termasuk masyarakat, terutama para petani.

Sementara itu sebelumnnya Kebakaran lahan kembali terjadi di Kabupaten Kotawaringin Timur. Kali ini, sekitar 200 hektare lahan warga di Desa Babirah, Kecamatan Pulau Hanaut, habis dilalap api, diperkirakan sekitar 1.500 pohon sawit juga ikut terbakar.

Warga desa setempat, Sukardi, mengatakan kebakaran tersebut terjadi pada Kamis (25/1/2018) siang sekitar pukul 11.00 WIB. Api baru padam sekitar pukul 19.00 WIB, setelah menghanguskan kebun dan ladang masyarakat sekitar 200 hektare.

Kejadian ini sangat disayangkan warga, mengingat kebakaran terjadi lantaran ulah salah seorang warga yang sengaja membakar lahan untuk berkebun. Ironisnya, dia tidak bisa mengendalikan api dan menghanguskan kawasan perkebunan dan pertanian warga sekitarnya.

BERITA TERKAIT

Leave a Comment

%d blogger menyukai ini: