DPRD KOTIM 

Ketua DPRD Minta Pemkab Kotim Tinjau Kembali Izin Pengerukan Pasir Pantai Ujung Pandara

Foto-Ketua DPRD Kotim, Jhon Krisli.(Setwan)

Sampit,– Ketua DPRD Kotawaringin Timur, Kalteng Jhon Krisli minta pemerintah daerah setempat meninjau kembali izin penambangan pasir laut di sekitar obyek wisata pantai Ujung Pandaran.

“Penerbitan izin tambang tidak bisa sembarangan dan harus memiliki dasar yang kuat apa lagi di sekitar lokasi tambang ada obyek wisata dan pemukiman penduduk,” katanya di Sampit, Jumat (13/10).

Setiap kegiatan penambangan juga wajib dan harus memiliki analisis mengenai dampak lingkungan hidup (Amdal).

Menurut Jhon, penambangan pasir laut dapat berdampak buruk terhadap obyek wisata pantai ujung pandaran dan rumah penduduk, yakni abrasi.

“Sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan tidak ada salahnya kegiatan penambangan pasir laut di Desa Ujung Pandaran, Kecamatan Teluk Sampit Kabupaten Kotawaringin Timur tersebut dihentikan sementara. Masyarakat sekitar mengeluhkan pengerukan pasir laut tersebut yang kabarnya digunakan untuk mereklamasi Teluk Jakarta,” katanya.

Sementara itu, Camat Teluk Sampit Samsurijal membenarkan adanya kegiatan penambangan pasir laut di wilayahnya tersebut.

“Dulu ada sosialisasi dan masyarakat kami menolak, tapi tidak tahu ternyata penyedotan pasir itu tetap dijalankan di muara sana. Kami tidak tahu apa pertimbangannya. Izin penambangannya dikeluarkan oleh pemerintah provinsi,” jelasnya.

Kabarnya, pasir itu memang diangkut untuk digunakan pada proyek reklamasi Teluk Jakarta yang kini menjadi polemik. Samsurijal mengaku memang mendengar isu tersebut, namun dia selama ini tidak pernah terlibat dalam perizinan penambangannya, apalagi masyarakat memang menolak penambangan itu.

Banyak alasan masyarakat menolak penambangan pasir laut di kawasan itu. Masyarakat yang umumnya merupakan nelayan, khawatir aktivitas penambangan berdampak pada rusaknya ekosistem dan biota laut.

Kekhawatiran itu kini mulai terbukti. Nelayan mengeluh hasil tangkapan kepiting dan ikan, jauh berkurang dari biasanya. Masyarakat menduga kondisi ini merupakan dampak penambangan pasir laut tersebut.

Samsurijal mengaku tidak tahu persis kapan penambangan itu dimulai karena tongkang besar pengangkut pasir itu tidak setiap hari berada di sana. Namun ketika beraktivitas, waktunya hanya beberapa jam dan kembali berangkat.

“Kami memperkirakan sudah hampir setahun. Kami khawatir penambangan itu juga juga berpengaruh dan akan menambah parah dampak abrasi yang saat ini saja sudah sangat parah melanda Pantai Ujung Pandaran,” kata Samsurijal.

Desa Ujung Pandaran memiliki pantai yang selama ini menjadi objek wisata andalan Kabupaten Kotawaringin Timur. Selain keindahan alamnya, pantai itu juga memiliki objek wisata religius yaitu makam atau kubah seorang ulama. Warga Desa Ujung Pandaran dan sekitarnya, hampir semuanya berprofesi sebagai nelayan

BERITA TERKAIT

Leave a Comment